REVIEW JURNAL SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN
PENGINDERAAN JARAK JAUH DALAM BIDANG BUDIDAYA PERAIRAN
TEKNOLOGI INFORMATIKA
Oleh :
RENDY ANDRIAWAN
26010213140088

DEPARTEMEN AKUAKULTUR
FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS
DIPONEGORO
SEMARANG
2016
JURNAL
·
STUDI KESESUAIAN LAHAN BUDIDAYA IKAN KERAPU DALAM KARAMBA JARING APUNG
DENGAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
DI TELUK RAYA PULAU SINGKEP, KEPULAUAN RIAU
·
IDENTIFIKASI LOKASI UNTUK PENGEMBANGAN BUDIDAYA KARAMBA JARING APUNG
(KJA) BERDASARKAN FAKTOR LINGKUNGAN DAN KUALITAS AIR DI PERAIRAN PANTAI TIMUR BANGKA TENGAH
PENDAHULUAN
• Ikan Kerapu merupakan komoditas penting perikanan dan ekonomis tinggi, sehingga
adanya potensi untuk dikembangkan.
• Penggunaan teknologi SIG (Sistem Informasi Geografis) dapat membantu analisis untuk memilih lokasi
budidaya ikan kerapu yang tepat berdasarkan data pengukuran yang diperoleh.
METODE
• Metode pada jurnal 1 dengan survey lapangan, pengumpulan data dan
pengambilan sampel dibantu dengan GPS (Global positioning Sistem) .
• Metode pada jurnal 2 dengan pengambilan sampel Data kualitas perairan
dikumpulkan berasal dari tujuh titik stasiun yang mewakili lokasi pengamatan,
untuk menganalisa secara spasial, kemudian diolah menggunakan software
Arc View 3.2
PETA
LOKASI PENELITIAN DI TELUK RAYA PULAU
SINGKEP

PETA
LOKASI PENELITIAN DI PERAIRAN TIMUR BANGKA TENGAH

Kecepatan
Arus
Jurnal 1
: ( 5 – 31 cm/s)

Jurnal 2
: ( 5 – 35 cm/s)

Menurut Ahmad (1991) dalam
Affan (2012) bahwa menggemukakan kecepatan arus yang masih Baik untuk budidaya
dalam KJA berkisar 5 – 15 cm/dt.
Kecerahan
Jurnal 1
: (1,72 – 4,38 m)

Jurnal 2
: (1 – 3 m)

Menurut Affan (2012) , bahwa
kecerahan menunjukkan kemampuan penetrasi cahaya kedalam perairan. Tingkat penetrasi
cahaya sangat dipengaruhi oleh partikel yang tersuspensi dan terlarut dalam
air sehingga mengurangi laju
fotosintesis
SUHU
Jurnal 1
: (30 – 32° C)

Jurnal 2
: (29,26 – 29,38 ° C)

Mayunar et al., (1995) dalam
Affan (2012), menyebutkan suhu optimum untuk budidaya ikan adalah 27 – 32 ° C
SALINITAS
Jurnal 1
: 30,1 - 33,0 ppt

Jurnal 2:
32,62 – 32,74 ppt

Kisaran salinitas keduanya
masih baik untuk kegiatan budidaya kerapu karena salinitas optimal untuk
budidaya komoditas ikan kerapu tersebut berada pada kisaran 30 – 35 ppt. Khusus untuk budidaya perikanan, nilai
salinitas yang dibutuhkan sesuai dengan jenis ikan yang akan dibudidaya. Kerapu
secara umum memiliki salinitas optimum pada kisaran 27 – 34 ppm (Ahmad et al.,
1991; Mayunar et al., 1995).
DO
(Oksigen Terlarut)
Jurnal 1:
4,8 – 5,8 mg/l

Jurnal 2:
3,51 – 4,67 mg/l

Mayunar et al. (1995) menyebutkan untuk bertahan hidup
ikan memerlukan kadar oksigen 1 mg/l, namun untuk dapat tumbuh dan berkembang
minimal 3 mg/l. Untuk kepentingan
budidaya ikan, oksigen terlarut yang optimal berkisar 5 – 8 mg/l (Ahmad et al.,
1991).
pH
Jurnal 1:
7,5-8,4

Jurnal 2:
8,0-8,2

Boyd & Lichtkoppler (1979) (lihat Mayunar et al.,
1995) menyebutkan pH optimal untuk budidaya ikan 6,5 – 9,0.
PENILAIAN KELAYAKAN LAHAN BUDIDAYA IKAN KERAPU PADA
TELUK RAYA PULAU SINGKEP

PETA KESUAIAN LAHAN BUDIDAYA IKAN KERAPU PADA TELUK
RAYA PULAU SINGKEP

PENILAIAN KESUAIAN LAHAN BUDIDAYA IKAN KERAPU PADA
PERAIRAN TIMUR BANGKA TENGAH

PETA KESUAIAN LAHAN BUDIDAYA IKAN KERAPU PADA PERAIRAN
TIMUR BANGKA TENGAH

KESIMPULAN
Pemilihan lokasi
yang tepat pada awal kegiatan budidaya merupakan salah satu faktor keberhasilan
dalam usaha budidaya yang berkelanjutan. Hasil analisis yang diperoleh
menunjukkan bahwa teknologi penginderaan jauh yang dipadukan dengan nilai hasil
pengukuran lapangan dapat memberikan informasi awal untuk penentuan lokasi
budidaya yang baik. Dilakukan
pengkajian lebih lanjut mengenai aspek sosial dan ekonomi, infrastruktur, serta
parameter kualitas perairan lain yang berpengaruh pada penentuan kesesuaian lahan
keramba jaring apung kerapu seperti MPT, gelombang dan pasang surut untuk dapat
melengkapi informasi awal yang telah di lakukan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar