Selasa, 06 Desember 2016

REVIEW JURNAL SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN PENGINDERAAN JARAK JAUH DALAM BIDANG BUDIDAYA PERAIRAN



REVIEW JURNAL SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN PENGINDERAAN JARAK JAUH DALAM BIDANG BUDIDAYA PERAIRAN



 
TEKNOLOGI INFORMATIKA


Oleh :
RENDY ANDRIAWAN
26010213140088









           



DEPARTEMEN AKUAKULTUR
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2016

JURNAL

·         STUDI KESESUAIAN LAHAN BUDIDAYA IKAN KERAPU DALAM KARAMBA JARING APUNG DENGAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS  DI TELUK RAYA PULAU SINGKEP, KEPULAUAN RIAU 
·        IDENTIFIKASI LOKASI UNTUK PENGEMBANGAN BUDIDAYA KARAMBA JARING APUNG (KJA) BERDASARKAN FAKTOR LINGKUNGAN DAN KUALITAS AIR   DI PERAIRAN PANTAI TIMUR BANGKA TENGAH 

PENDAHULUAN

      Ikan Kerapu merupakan komoditas penting perikanan dan ekonomis tinggi, sehingga adanya potensi untuk dikembangkan.
      Penggunaan teknologi SIG (Sistem Informasi Geografis) dapat membantu analisis untuk memilih lokasi budidaya ikan kerapu yang tepat berdasarkan data pengukuran yang diperoleh.


METODE

      Metode pada jurnal 1 dengan survey lapangan, pengumpulan data dan pengambilan sampel dibantu dengan GPS (Global positioning Sistem) .
      Metode pada jurnal 2 dengan pengambilan sampel Data kualitas perairan dikumpulkan berasal dari tujuh titik stasiun yang mewakili lokasi pengamatan, untuk menganalisa secara spasial, kemudian diolah menggunakan software Arc View 3.2
















PETA LOKASI PENELITIAN  DI TELUK RAYA PULAU SINGKEP
PETA LOKASI PENELITIAN DI PERAIRAN TIMUR BANGKA TENGAH







Kecepatan Arus

Jurnal 1 : ( 5 – 31 cm/s)

Jurnal 2 : ( 5 – 35 cm/s)

Menurut Ahmad (1991) dalam Affan (2012) bahwa menggemukakan kecepatan arus yang masih Baik untuk budidaya dalam KJA berkisar 5 – 15 cm/dt.



Kecerahan

Jurnal 1 : (1,72 – 4,38 m)

Jurnal 2 : (1 – 3 m)

Menurut Affan (2012) , bahwa kecerahan menunjukkan kemampuan penetrasi cahaya kedalam perairan. Tingkat penetrasi cahaya sangat dipengaruhi oleh partikel yang tersuspensi dan terlarut dalam air  sehingga mengurangi laju fotosintesis

SUHU

Jurnal 1 : (30 – 32° C)

Jurnal 2 : (29,26 – 29,38 ° C)

Mayunar et al., (1995) dalam Affan (2012), menyebutkan suhu optimum untuk budidaya ikan adalah 27 – 32 ° C



SALINITAS

Jurnal 1 : 30,1 - 33,0 ppt

Jurnal 2: 32,62 – 32,74 ppt
Kisaran salinitas keduanya masih baik untuk kegiatan budidaya kerapu karena salinitas optimal untuk budidaya komoditas ikan kerapu tersebut berada pada kisaran 30 – 35 ppt.  Khusus untuk budidaya perikanan, nilai salinitas yang dibutuhkan sesuai dengan jenis ikan yang akan dibudidaya. Kerapu secara umum memiliki salinitas optimum pada kisaran 27 – 34 ppm (Ahmad et al., 1991; Mayunar et al., 1995).
DO (Oksigen Terlarut)

Jurnal 1: 4,8 – 5,8 mg/l

Jurnal 2: 3,51 – 4,67 mg/l

Mayunar et al. (1995) menyebutkan untuk bertahan hidup ikan memerlukan kadar oksigen 1 mg/l, namun untuk dapat tumbuh dan berkembang minimal 3 mg/l.  Untuk kepentingan budidaya ikan, oksigen terlarut yang optimal berkisar 5 – 8 mg/l (Ahmad et al., 1991).



pH

Jurnal 1: 7,5-8,4

Jurnal 2: 8,0-8,2

Boyd & Lichtkoppler (1979) (lihat Mayunar et al., 1995) menyebutkan pH optimal untuk budidaya ikan 6,5 – 9,0.

PENILAIAN KELAYAKAN LAHAN BUDIDAYA IKAN KERAPU PADA TELUK RAYA PULAU SINGKEP



PETA KESUAIAN LAHAN BUDIDAYA IKAN KERAPU PADA TELUK RAYA PULAU SINGKEP




PENILAIAN KESUAIAN LAHAN BUDIDAYA IKAN KERAPU PADA PERAIRAN TIMUR BANGKA TENGAH


PETA KESUAIAN LAHAN BUDIDAYA IKAN KERAPU PADA PERAIRAN TIMUR BANGKA TENGAH









KESIMPULAN


Pemilihan lokasi yang tepat pada awal kegiatan budidaya merupakan salah satu faktor keberhasilan dalam usaha budidaya yang berkelanjutan. Hasil analisis yang diperoleh menunjukkan bahwa teknologi penginderaan jauh yang dipadukan dengan nilai hasil pengukuran lapangan dapat memberikan informasi awal untuk penentuan lokasi budidaya yang baik. Dilakukan pengkajian lebih lanjut mengenai aspek sosial dan ekonomi, infrastruktur, serta parameter kualitas perairan lain yang berpengaruh pada penentuan kesesuaian lahan keramba jaring apung kerapu seperti MPT, gelombang dan pasang surut untuk dapat melengkapi informasi awal yang telah di   lakukan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

REVIEW JURNAL SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN PENGINDERAAN JARAK JAUH DALAM BIDANG BUDIDAYA PERAIRAN

REVIEW JURNAL SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN PENGINDERAAN JARAK JAUH DALAM BIDANG BUDIDAYA PERAIRAN   T...